Mengenal Terminologi Budaya dan Pariwisata

Drs. H. J. Lerebulan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Kabupaten Maluku Tenggara Barat

Pariwisata, Budaya, Wisata Budaya dan Pariwisata Budaya Dari sejumlah definisi “Cultural Tourism” atau Pariwisata Budaya atau “Wisata Budaya” yang ada, tidaklah terlalu mudah untuk menentukan definisi mana yang paling tepat untuk digunakan terutama bila dikaitkan dengan kepariwisataan Indonesia. Sebelum menilik pada keterkaitan antara kata “pariwisata” dan “budaya“, ada baiknya kita telah terlebih dahulu masing-masing kata tersebut.

Kata pariwisata atau dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan tourism sering sekali diasosiasikan sebagai rangkaian perjalanan (wisata, tours/traveling) seseorang atau sekelompok orang (wisatawan, tourist/s) ke suatu tempat untuk berlibur, menikmati keindahan alam dan budaya (sightseeing), bisnis, mengunjungi kawan atau kerabat dan berbagai tujuan lainnya. Organisasi pariwisata sedunia, World Tourism Organization (WTO), mendefinisikan pariwisata (tourism) sebagai  ”activities of person traveling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”.

1. Kebudayaan: keseluruhan yg kompleks, yang didalamya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, keseniaan, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (E.B. Taylor)

2. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha yang terkait dibidang tersebut. (UU RI No. 09 Tahun 1990)

Kata kebudayaan dapat dipahami dalam tiga aspek, yaitu aspek material, perilaku dan ide. Dalam bentuk material mencakup antara lain, peralatan hidup, arsitektur, pakaian, makanan olahan, hasil-hasil teknologi dan lain-lain. Dalam wujud perilaku mencakup kegiatan ritual perkawinan, upacara-upacara keagamaan atau kematian, seni pertunjukan, keterampilan membuat barang-barang kerajinan dan lain-lain. Dalam wujud ide mencakup antara lain sistem keyakinan, pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma.

Hingga….

Salah satu sumber dari sejumlah tulisan mengenai pariwisata budaya menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1970-an, ketika para pakar pemasaran dan peneliti kepariwisataan mendapati adanya orang atau sekelompok orang yang melakukan perjalananan semata-mata hanya untuk pemahaman mendalam terhadap obyek atau peristiwa budaya (ODTW) di suatu tempat tertentu, barulah dikenali adanya pariwisata budaya yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai salah satu produk kepariwisataan (Tighe, 1986 dalam McKercher, 2002).

Sebagai simbol-simbol, kebudayaan (Duan Lolat, Pela, Kalwedo-Kidabela)  ini mempunyai wujud yang kongkrit, setengah kongkrit dan abstrak, atau dapat dikatakan bahwa menurut perwujudannya Pada kenyataannya, kunjungan terhadap obyek atau peristiwa budaya tampaknya sudah selalu menjadi bagian dari sebuah perjalanan wisata, sehingga sulit untuk membedakan wisata budaya dengan wisata alam misalnya, atau wisata-wisata lainnya sebagai contoh Event Internasional (Sail Darwin Saumlaki), Gebyar Wisata Tingkat Regional/Nasional, dll

Hakekat Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat

bertumpu pada keunikan (Mistik) dan kekhasan budaya dan alam (Natural), serta hubungan antar manusia (Holistik).  Selain itu, tampaknya wisata budaya perlu dibedakan dengan pariwisata budaya. Jika wisata budaya adalah aktivitas perjalanan temporal yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dari tempat dimana dia atau mereka tinggal ke suatu tempat lain dengan tujuan untuk menyaksikan atau menikmati situs purbakala, tempat bersejarah, museum, upacara adat tradisional, upacara keagamaan, pertunjukan kesenian, festival dan lain sebagainya, maka pariwisata budaya mencakup bukan hanya perjalanan dan aktivitas menikmati saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan oleh pihak lain yang terkait dengan para wisatawan tersebut. Termasuk didalamnya berbagai uapaya yang perlu dilakukan demi tetap berlangsungnya atraksi budaya sebagai sumber daya yang bersifat unik, terbatas dan tidak terbarukan. Adanya interaksi (Holistik)yang terjadi baik antara manusia sebagai pengunjung, dengan manusia dan obyek budaya yang dikunjungi, maka presentase ini lebih unik membahas tentang :

Jelajah Budaya dan Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat” dalam Analisa TOWS Rencana Strategi dan RPJMD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara Barat bagi Perencanaan Daerah Kabupaten selangkah demi dan dalam penyatuan persepsi Perencanaan Pembangunan MTB Periode 2007 – 2012.

4 Responses to Mengenal Terminologi Budaya dan Pariwisata

  1. vino says:

    Maaf,saya butuh data statistik kunjungan wisatawan asing maupun domestik ke Maluku Tenggara Barat. Dimana y bisa diperoleh?… Terima kasih!!!

  2. Franadine says:

    Salam Perubahan,

    Menurut saya pengembangan pariwisata budaya di MTB akan menjadi lebih maksimal jika pemahaman tentang kesadaran membangun pariwisata itu tidak hanya ada pada tataran wacana namun diimplementasikan hingga ke level masyarakat bawah. Idealisme membangun dunia pariwisata MTB hanya akan menjadi slogan jika pendidikan melalui pemahaman kepariwisataan itu tidak dipenetrasikan terutama kepada pelaku pelaku pariwisata (mulai dari penjual souvenir di kaki lima hingga hotel-hotel) yang tentunya terlibat langsung dengan sasaran pariwisata. Penetrasi pendidikan pariwisata itu dapat dilakukan mulai dari seminar hingga lokakarya dan dilakukan secara gradual dengan komitmen yang kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: