Rumah Tangga Perikanan
Sektor Kelautan dan Perikanan sangat berperan Untuk mewujudkan Maluku Tenggara Barat sebagai daerah berbasis kebaharian yang kuat bukanlah suatu hal yang mustahil, mengingat potensi sumberdaya manusia (SDM) yang terlibat langsung di dalam sektor kelautan dan perikanan cukup banyak, khususnya nelayan yang tersebar di semua kecamatan. Pada tahun 2007 jumlah rumah tangga perikanan (RTP) mencapai 7.613 buah, sementara nelayan berjumlah 19.889 orang. Sebagian besar RTP dan nelayan berada di Tanimbar Selatan, Tanimbar Utara, Selaru, Wermaktian dan Wuarlabobar (Tabel 2.2).
Tabel 2.2.
Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) dan Nelayan Menurut Kecamatan Tahun 2007
|
No. |
Kecamatan |
RTP |
Nelayan |
|
1 |
Tanimbar Selatan |
1.723 |
4.776 |
|
2 |
Wertamrian |
98 |
617 |
|
3 |
Wermaktian |
1.369 |
3.040 |
|
4 |
Selaru |
1.383 |
3.765 |
|
5 |
Tanimbar Utara |
1.405 |
3.894 |
|
6 |
Yaru |
301 |
451 |
|
7 |
Wuarlabobar |
1.145 |
2.818 |
|
8 |
Nirunmas |
86 |
268 |
|
9 |
Kormomolin |
103 |
260 |
|
Jumlah |
7.613 |
19.889 |
|
Sumber: BPS, MTB dalam Angka 2008 (diolah)
Potensi SDM tersebut sangat ditunjang oleh jiwa kebaharian yang secara sosio-kultural telah tumbuh sejak lama dan hingga kini masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan, masyarakat setempat memiliki kearifan lokal yang dikenal sebagai tradisi “sasi.” Sasi laut pada dasarnya merupakan kesepakatan tradisional tentang pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan berikut sanksi pelanggarannya, disusun oleh masyarakat dan disahkan melalui mekanisme struktural adat di suatu desa. Sasi laut antara lain mengatur pemanenan komoditas perikanan seperti lola, batu laga, dan teripang beserta pemeliharaan ekosistemnya agar tetap lestari.
Armada Perikanan
Pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan melalui kegiatan penangkapan ikan hingga kini masih belum optimal. Hal ini terutama disebabkan oleh struktur armada perikanan yang masih didominasi oleh perikanan tangkap skala kecil atau tradisional dengan kemampuan modal dan IPTEK (SDM) yang masih relatif rendah. Sebagian besar nelayan (80,99%) hingga kini masih mengandalkan perahu tanpa motor dengan alat penggerak berupa layar dan dayung (Tabel 2.3). Dalam kondisi demikian maka operasi penangkapan ikan oleh nelayan menjadi sangat terbatas dan hasil tangkapan ikan yang diperoleh pun juga rendah. Selain itu pengelolaan yang masih bersifat subsisten dan sambilan juga turut mempengaruhi belum optimalnya kegiatan penangkapan ikan. Apabila kondisi seperti ini tetap berlangsung terus-menerus, maka tingkat pendapatan dan kesejahteraan nelayan akan sulit mengalami peningkatan.
Tabel 2.3
Jumlah Armada Perikanan Menurut Kecamatan
Tahun 2007
|
No. |
Kecamatan |
Perahu Tanpa Motor |
Perahu Motor Tempel |
Kapal motor |
|
1 |
Tanimbar Selatan |
1.672 |
90 |
36 |
|
2 |
Wertamrian |
116 |
16 |
8 |
|
3 |
Wermaktian |
1.622 |
367 |
11 |
|
4 |
Selaru |
2.208 |
472 |
41 |
|
5 |
Tanimbar Utara |
2.266 |
528 |
21 |
|
6 |
Yaru |
257 |
197 |
7 |
|
7 |
Wuarlabobar |
915 |
289 |
17 |
|
8 |
Nirunmas |
85 |
25 |
4 |
|
9 |
Kormomolin |
110 |
37 |
6 |
|
Jumlah |
9.251 (80,99%) |
2.021 (17,69%) |
151 (1,32%) |
|
Sumber: Maluku Tenggara Barat Dalam Angka (2008)
Alat Tangkap
Nelayan di Maluku Tenggara Barat pada umumnya menggunakan alat tangkap ikan yang terdiri dari pukat pantai, jaring insang, bagan, sero, bubu dan pancing. Rata-rata laju tangkap pukat pantai diperkirakan mencapai 50 kg/trip, jaring insang 50 kg/trip, bagan 100 kg/trip, sero 40 kg/trip, bubu 3 kg/trip dan pancing 30 kg/trip. Alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah jaring insang (44,14%) dan pancing (43,25%) (Tabel 2.4). Selain alat tangkap tersebut, sebagian kecil nelayan masih ada yang menggunakan peralatan tradisional seperti panah dan tombak, serta menangkap ikan di pesisir pada saat air surut (“bameti”).
Tabel 2.4
Jenis Alat Tangkap Ikan Menurut Kecamatan Tahun 2007
|
No. |
Kecamatan |
Pukat Pantai |
Jaring Insang |
Bagan |
Sero |
Bubu |
Pancing |
|
1 |
Tanimbar Selatan |
1 |
840 |
21 |
11 |
130 |
844 |
|
2 |
Wertamrian |
- |
701 |
2 |
1 |
54 |
267 |
|
3 |
Wermaktian |
- |
124 |
41 |
4 |
160 |
381 |
|
4 |
Selaru |
- |
689 |
23 |
8 |
90 |
114 |
|
5 |
Tanimbar Utara |
2 |
552 |
51 |
12 |
142 |
846 |
|
6 |
Yaru |
- |
314 |
10 |
2 |
84 |
429 |
|
7 |
Wuarlabobar |
- |
610 |
66 |
18 |
123 |
604 |
|
8 |
Nirunmas |
- |
54 |
4 |
9 |
31 |
111 |
|
9 |
Kormomolin |
- |
66 |
- |
6 |
22 |
274 |
|
|
Jumlah |
3 (0,03%) |
3950 (44,14%) |
218 (2,44%) |
71 (0,79%) |
836 (9,34%) |
3870 (43,25%) |
Sumber: BPS, MTB dalam Angka 2008 (diolah)
Potensi Sumber Daya Perikanan
Produksi ikan hasil tangkapan di Maluku Tenggara Barat pada tahun 2005 secara keseluruhan mencapai 12.450,6 ton dengan nilai Rp 99.943.600. Produksi tersebut terutama dihasilkan dari kelompok ikan pelagis kecil (selar, lalosi, julung, kembung, teri dan lemuru), pelagis besar (tuna dan cakalang) dan demersal (kerapu, kakap merah, beloso, gerot, biji nangka, lencam, kuwe, beronang dan bawal hitam). Selain itu produksi juga dihasilkan dari kelompok krustase (udang), moluska (lola, batu laga), bivalvia (kerang) dan ekinodermata (teripang).
Produksi ikan pelagis kecil, pelagis besar dan demersal di Maluku Tenggara Barat masih jauh berada di bawah potensi lestari (MSY) yang mencapai 25.345,11 ton/tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 20.276,09 ton/tahun. Saat ini rata-rata tingkat pemanfaatan terhadap tiga kelompok ikan tersebut masih rendah, yaitu baru mencapai 30,07% dari JTB (Tabel 2.5). Fakta ini mengindikasikan bahwa peluang pengembangan penangkapan ikan masih sangat dimungkinkan guna mencapai produksi yang lebih optimal. Namun demikian, peluang yang masih terbuka lebar ini, justru kadang-kadang dimanfaatkan oleh nelayan dari luar daerah/provinsi untuk mencuri atau menangkap sumberdaya ikan secara illegal. Munculnya kejadian ini antara lain juga dipengaruhi oleh sistem pengendalian dan pengawasan yang masih lemah, khususnya sistem pengawasan yang berbasis pada masyarakat (SISWASMAS).
Tabel 2.5
Potensi Sumberdaya Ikan Pada Wilayah Perairan Hingga 12 Mil
dan Tingkat Pemanfaatannya Tahun 2007
|
No. |
Sumberdaya ikan |
Potensi (Ton/tahun) |
Pemanfaatan |
||
|
MSY |
JTB |
Ton |
% JTB |
||
|
1 |
Pelagis kecil |
11.425,91 |
9.140,72 |
2.891,21 |
31,63 |
|
2 |
Pelagis besar |
5.882,24 |
4.705,80 |
1.337,54 |
28,42 |
|
3 |
Demersal |
8.036,96 |
6.429,57 |
1.867,79 |
29,05 |
|
Jumlah |
25.345,11 |
20.276,09 |
6.096,54 |
30,07 |
|
Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Tenggara Barat (2007)
Sumber : Data Penyusunan Proposal P2WP pada Kementrian Daerah Tertinggal disusun oleh : Agus Songupnuan, ST dan Ernes Andityaman Falikres, ST Tahun 2009


